Majas Perbandingan

Posted: October 31, 2012 in Lain-lain

Gaya bahasa atau majas adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan baik secara lisan maupun tertulis. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga, tahun 2002). Meskipun ada banyak macam gaya bahasa atau majas, namun secara sederhana gaya bahasa terdiri dari empat macam, yaitu majas perbandingan, majas penegasan, majas pertentangan, dan majas sindiran.

Majas Perbandingan

1. Alegori (allgoria: allos, lain, agoreurein: ungkapan pernyataan) adalah menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.

  • Burung merpati menggambarkan perdamaian. (perilaku burung merpati memberikan gambaran lengkap sebagai burung yang cinta damai)
  • Hidup manusia seperti roda, kadang-kadang di bawah kadang pula di atas.

2. Alusio adalah pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena ungkapan itu sudah dikenal juga pembicara atau penulis ingin menyampaikan maksud secara tersembunyi.

  • Ah, kau ini, seperti kura-kura dalam perahu. (lengkapnya, Ah kau ini seperti kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu.)
  • Memberikan barang atau nasihart seperti itu kepadanya, engkau seperti memberikan bunga kepada seekor kera.
  • Kalau ada sumur di ladang, bolehkan saya menumpang mandi?

3. Simile adalah pengungkapan dengan menggunakan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung seperti layaknya, bagaikan, seperti, bagai.

  • Caranya bercinta selalu mengagetkan, seperti petasan (Rendezvous, Agus Noor)
  • Dan ia pun bercerita, betapa dia selalu memimpikan hidupnya mengalir seperti sebuah bossanova. Tak terlalu banyak kejutan, seperti jazz. (Rendezvous, Agus Noor)

4. Metafora (Yun. Metaphore: meta: di atas, pherein: membawa) adalah pengungkapan berupa perbandingan analogis satu hal dengan hal lain, dengan menghilangkan kata-kata seperti, layaknya, bagaikan, dsb.

  • Generasi muda adalah tulang punggung Negara (generasi muda dianalogikan sebagai tulang punggung)
  • Dan ia pun bercerita, betapa dia selalu memimpikan hidupnya adalah sebuah bossanova atau jazz.
  • Setelah sampai di kaki Gunung (analogi dari kaki manusia) ia duduk-duduk di mulut sungai (analogi dari mulut manusia).

5. Antropomorfisme adalah bentuk metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia atau hal yang bukan manusia.

  • Setelah sampai di kaki Gunung, ia duduk-duduk di mulut sungai.
  • Ketika sampai di mulut jurang, hatinya ragu-ragu, adakah ia berani melanjutkan perjalanan

6. Sinestesia adalah bentuk metafora berupa ungkapan yang berhubungan dengan suatu indra untuk dikenakan kepada indra yang lain.

  • Kata-katanya (untuk telinga) memang terkenal pedas. (untuk pengecap/lidah)
  • Permen nona-nona rasanya rame-rame!
  • Betapa sedap memandang gadis cantik yang selesai berdandan.

7. Antonomasia adalah penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri sebagai nama jenis.

  • Lho, Mbakyu, kalau begini aku harus bagaimana? Masakan aku harus melepas bekisarku, meski katanya, dia hanya mau pinjam sebentar? (Belantik, Ahmad Tohari)
  • “…Jangan seperti anak kemaren sore, Kolonel. Kalau mereka menginginkan kematianku, baiklah.” “Mungkin ini jalan terbaik, Jendral” (Rendezvous, Agus Noor).

8. Aptronim adalah pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.

  • Karena sehari-hari ia bekerja sebagai kusir gerobak, ia dipanggil Karto grobak.
  • Tentu Karto grobak tidak ada sangkut-pautnya dengan si Gendut, anak Tarsih tetangga sebelah.

9. Metonemia adalah bentuk pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merk, ciri khas atau menjadi atribut.

  • Saat itu aku mulai melayang karena dua butir blue diamond yang sekaligus kutenggak… (Rendezvous, Agus Noor)
  • Maya memang menyukai bossanova. Dan ia pun bercerita, betapa dia selalu memimpikan hidupnya mengalir seperti sebuah bossanova. Tak terlalu banyak kejutan, seperti jazz. (Rendezvous, Agus Noor)
  • Ke mana pun ia pergi, ia tak pernah lepas dari Chairil Anwar. (Chairil Anwar adalah nama penyair pembaharu Angkatan 1945)

10. Hipokorisme adalah penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkkan hubungan karib antara pembicara dengan yang dibicarakan.

  • Bawuk atau tole adalah sebutan karib untuk anak perempuan dan laki-laki.
  • Lama Otok hanya memandangi ikatan bunga biji mata itu, yang membuat Otok  kian terkesima. (Rendezvous, Agus Noor)

11. Litotes adalah ungkapan berupa mengecilkan fakta dengan tujuan untuk merendahkan diri.

  • Tanpa bantuan anda sekalian, pekerjaan saya ini tidak mungkin selesai.
  • Mampirlah ke rumah saya yang tak berapa luas.
  • Aku hanya bisa memberikan bantuan a la kadarnya dan tidak seberapa. Silahkan diterima dengan senang hati.

12. Hiperbola (Yun. Huperbola; huper, di atas, melampaui, terlalu, ballo, melempar) adalah cara pengungkapan dengan melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan itu menjadi tidak masuk akal.

  • Hatiku hancur mengenang dikau, berkeping-keping jadinya.
  • Ombak setinggi Gunung menghantam rumah-rumah dan menghanyutkan ribuan manusia. Dan orang-orang Aceh kehabisan air mata  karena sedih oleh musibah tsunami itu.
  • Air matanya terkuras habis karena terharu membayangkan nasib Sitti Nurbaya.

13. Personifikasi atau penginsanan adalah cara pengungkapan dengan menjadikan benda mati atau tidak bernyawa sebagai manusia.

  • Angin mendesah, mengeluh dan mendesah. (Surat Cinta, Rendra)
  • Lampu-lampu penduduk di pinggir jalan berlarian ke belakang. (Belantik, Ahmad Tohari)
  • Tetapi Dukuh Paruk tetaplah Dukuh Paruk. Dia sudah berpengalaman dengan kegetiran kehidupan, dengan kondisi hidup yang paling bersahaja. (Jantera Bianglala, Ahmad Tohari)

14. Depersonifikasi adalah cara pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa sebagai manusia.

  • Jika aku bunga, engkau kumbangnya.
  • Engkaulah bulanku, pelita malamku.

15. Pars pro toto adalah sinekdoke berupa mengungkapkan sebagian dari objek untuk menunjuk keseluruhan objek tersebut.

  • Nah, sendok dan garpu telah tersedia, silahkan dinikmati dengan tanpa sungkan-sungkan. (Yang tersedia adalah daging ayam panggang, nasi mengepul, beraneka sayur mayor, dan tentu saja, piring, sendok, dan garpu)
  • Tatapan matanya telah meruntuhkan hatiku.

16. Totum pro parte adalah sinekdoke berupa mengungkapkan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian saja.

  • Tidak kusangka, Indonesia ternyata dapat menyabet gelar The Absolute Winner dalam olimpiade fisika tahun 2006.
  • Kata Amien Rais: Bangsa kita kehilangan kemandirian (Kompas, 27/12/2006)
  • Amerika Serikat menuduh Iran campur tangan soal Irak.

 17. Eufemisme (Yun. Euphemisms; eu, baik, pheme, perkataan, ismos, tindakan) adalah menggantikan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.

  • Maaf Pak, saya minta izin ke belakang.

(Membuang air kecil atau besar dirasa kurang sopan dibandingkan ke belakang.)

  • Kata pelacur atau perempuan jalang dianggap kurang pantas dibandingkan (wanita) tuna susila.
  • Kaum tuna wisma makin bertambah saja di kotaku.

18. Disfemisme adalah mengungkapkan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.

  • Ibuku seorang pelacur… (cerpen “Pelajaran Mengarang”, Seno Gumira Ajidarma)
  • Bolehkan saya meminta izin untuk kencing sebentar?

19. Fabel adalah menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.

  • Kancil diam sejenak. Kebun mentimun siapakah gerangan ini?
  • Mengetahui bahwa Kancil telah menipunya, geramlah hati harimau.

20. Parabel adalah ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.

Misalnya, kisah Nabi Ayub atau kisah para nabi besar lainnya dalam parable. Demikian juga, cerita-cerita fable menyatakan nilai dan pelajaran hidup yang dapat diketahui melalui membaca atau mendengarkan cerita secara keseluruhan.

21. Perifrase adalah ungkapan yang panjang sebagai pengganti pengungkapan yang lebih pendek.

  • Kemanapun ia pergi, besi tua bermerek Yamaha produksi tahun 1970 selalu menemaninya
  • Aku lebih merasa nyaman naik gerbong panjang yang berjalan di atas rel.

 22. Eponym adalah majas perbandingan dengan menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata. Misalnya, Gelora Bung Karno, Gunung Sukarnapura,rezim Suharto, lapangan Trikora.

23. Simbolik adalah melukiskan sesuatu dengan menggunakan symbol atau lambang untuk menyatakan suatu maksud.

  • Lelaki, buaya darat, (buaya darat adalah symbol laki-laki hidung belang) aku tertipu lagi. (“Buaya Darat”, Ratu)
  • Katakanlah cinta dengan bunga.

 

sumber : Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s